Mengais Asa Dalam Ridha-Nya

>> Minggu, 26 Juli 2009




Pernahkah kita merasa bahwa Allah SWT sedang menguji kita?
Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Tuhan. Jarang sekali kalau kita dapat rahmat melimpah dan kebahagiaan kita teringat bahwa itu pun merupakan ujian dan cobaan dari Allah SWT. Ada di antara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula di antara kita yang tegar menghadapinya.

Bukankah Allah SWT tidak pernah memberikan beban yang melampui kemampuan manusia? Jadi jika kita menghadapi suatu masalah hadapilah masalah tersebut dengan penuh kepasrahan kepada-NYA. Hanya karena Dia-lah segala sesuatu ada dan tidak ada.

Nah..dari cerita kisah nyata ini, saya mencoba untuk menuliskan sedikit tentang seorang wanita yang sangat sabar dalam menghadapi setiap cobaan, dia tidak pernah mengeluh selalu saja berusaha mencari rahmat dan hidayah-Nya agar selalu diberikan jalan yang baik. Semoga dalam cerita ini kita dapat mengambil hikmah-nya dan Insya Allah untuk menjadi bahan renungan kita.

Aku dilahirkan dalam keluarga besar, dan taat beragama. Kehidupan keluargaku Insya Allah, bisa dibilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari. Bahkan untuk membiayai kami sekolah pun masih dibilang cukup mampu. Aku adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara, dan ketiga kakakku sudah menikah semua. Aku sendiri belum bertemu jodoh, meski kini sudah berusia 21 tahun.


Setiap insan pasti punya cita-cita. Begitu juga denganku. Ketika SMP, cita-cita itu belum terbayang di pikiran. Cita – cita itu muncul saat kenaikan kelas 3 SMU. Aku mengambil jurusan akuntansi, karena ingin menjadi seorang akuntan handal.

Aku lulus SMU dengan nilai yang bisa dibanggakan. Tapi cita-citaku cuma tinggal angan-angan belaka, karena orangtuaku tidak mengizinkan. Lebih-lebih bapakku, menentang keinginanku menjadi seorang akuntan. Bapakku menawariku masuk perguruan Islam/ponpes dengan mengambil jurusan tarbiyah taklim, yang tak pernah terlintas di pikiranku sama sekali. Meski seorang pamanku bersedia menanggung biaya kuliahku, itu tidak meluluhkan hati bapakku untuk mengubah keputusannya. Beliau tetap bersikeras dengan pendiriannya. Pamanku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku terpaksa memenuhi permintaan bapakku. Alasan beliau mengapa aku harus di ponpes, karena takut nanti pergaulanku tidak karuan, apalagi jika aku kuliah (harus kos), mungkin akan lebih parah, karena aku tidak dibawah pengawasan beliau.

Di ponpes, hari-hari pertamaku kulalui dengan biasa-biasa saja, tanpa ada suasana yang istimewa. Baru 7 bulan 10 hari lamanya aku di ponpes, aku drop out. Aku beralasan “tidak betah”, padahal bukan itu alasanku yang sesungguhnya. Jujur saja, sebenarnya aku merasa tenteram tinggal di ponpes, tapi aku punya alsan yang lebih kuat untuk meninggalkan ponpes tersebut yang sampai sekarang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun, termasuk sahabat dekatku.

Ceritanya, ayahku mengalami kerugian dalam usahanya, yang sengaja beliau tutup-tutupi dariku. Dan aku merasa beliau tidak mungkin membiayaiku dan ketiga adikku yang sedang membutuhkan biaya banyak. Aku ingin kerja untuk membantu meringankan beban mereka. Mengenai kakakku, mereka semua sudah punya tanggungjawab dan keluarga masing-masing. Jadi kami tidak mungkin mengharapkan uluran tangan dari mereka terus. Alasan-alasan inilah yang membuat aku bersikeras ingin keluar.

Menyusul cobaan kedua, yaitu barang dagangan ibu tidak dibayar sampai sekarang, sehingga membuat ibu mengalami kerugian dan terbelit hutang. Hati ini terus berkata, aku harus meringankan beban mereka. Akhirnya aku benar-benar keluar dari ponpes tesebut dengan meninggalkan seribu tanda tanya di hati orang-orang. Mereka saling bertanya mengapa aku keluar, jika masalah biaya mereka akan membantu.

Tapi tekadku sudah bulat, keluar lalu bekerja untuk meringankan beban kedua orangtuaku. Akhirnya kutinggalkan ponpes yang penuh kenang-kenangan, disertai janji pada diriku sendiri dan memohon pada Allah agar aku tetap istiqomah di jalan-Nya.

Dengan bermodal Rp. 10.000,- aku mulai buka usaha kecil-kecilan. Usahaku makin hari makin menunjukkan kemajuan. Melihat usahaku yang makin maju, kakaku menambahkan modal, dan sedikit-sedikit aku bisa membantu meringankan beban orangtuaku.

Qadarullah, itu tak berlangsung lama. Saat usahaku sedang “naik daun”, harga barang daganganku melonjak naik, sehingga aku tidak mampu membelinya. Sementara harga jualnya di pasar semakin merosot. Akibatnya aku mengalami kerugian total, upah pekerja belum dibayar, dan hutangku pada penyedia barang baku tidak bisa dilunasi. Aku saat itu tidak bisa berbuat apa-apa, tiga rentetan hutang berturut-turut dalam keluargaku harus terjadi.
Mengingat semua musibah itu, aku merasa seakan-akan semuanya musnah, cita-citaku kandas, keluargaku terbelit hutang, usahaku gulung tikar dan aku yang masih muda sudah punya hutang. Belum lagi omongan tetangga kiri kanan yang memanaskan telinga, dan kini sudah seolah aku benar-benar jatuh pada titik nol.

Tapi kami tidak ingin suuzhzhan (berburuk sangka) pada Allah. Aku berusaha mengahapi dengan tegar, walaupun kadang aku tidak bisa menyembunyikan air mataku di hadapan kedua orang tuaku. Aku terus memohon kepada Allah agar diberi kesabaran untuk menghadapi semua ini. Dan aku terus berusaha menahan diri dari ucapan keluh kesah, yang mungkin membuatku terlarut dalam cobaan ini.

Disaat pikiran tidak menentu, aku berusaha untuk menenangkan diri dengan mengambil air wudhu kemudian salat dua rakaat dan tidak lupa memohon kepada-Nya agar meringankan beban kami. Kuambil mushaf kecil kesayanganku dan kubaca surat Al-Hadid serta Al-Baqarah 155-157 dengan berulang kali. Kedua surat ini mengingatkanku bahwa setiap cobaan dan musibah yang menimpa manusia adalah sunnatullah.

Aku tidak ingin terpuruk dalam masalah-masalah yang kuhadapi. Kucoba tuk bangkit kembali. Aku mencoba membuat surat lamaran kerja tanpa sepengetahuan orang tuaku dengan di bantu sahabatku yang ada di luar pulau. Ternyata dia berhasil mencarikanku pekerjaan. Tapi, kini lagi-lagi tersandung izin dari orang tuaku, dengan alasan perjalanan wanita tanpa mahram itu tidak baik, berlawanan dengan ajaran Islam. Aku tidak membantah kata-kata ayahku, karena beliau benar.
Aku bersyukur memiliki ayah seperti beliau, yang paham ajaran agama. Kini aku bisa mengambil hikmah kenapa aku tidak jadi kuliah. Seandainya aku jadi kuliah mungkin aku bebas bergaul dengan laki-laki bukan mahram, pakai celana ketat, pakai “baju adik”, bahkan berjilbab “semau gue”, dengan dalih syari tepi tetap gaul, seperti yang terjadi pada teman-temanku saat ini.

Aku bersyukur ternyata Allah lebih mencintai hamba-Nya yang lemah ini. Alhamdulillah, sekarang aku mengenakan cadar mulai Ramadhan kemarin. Aku mengenakannya dengan niat ikhlas semata-mata mencari ridha Allah.
Kehidupanku sehari-hari setelah aku menjalankan sunnah ini (cadar) terasa lain, aku merasakan lingkungan tempat tinggalku seakan-akan asing. Alhamdulillah orang tuaku mendukungku, dan memang sejak dulu menganjurkanku untuk mengenakannya. Keterasingan itu mengingatkanku akan sebuah hadits,
“Islam itu dimulai dalam keadaan asing, dan suatu saat saat akan kembali asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (Riwayat Tirmizi)
Umar bin Khatab pun pernah berdoa di hadapan Kabah, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang sedikit.”Aku selalu berdoa dan berharap kepada Allah, semoga aku selalu tegar dan sabar menghadapi semua ini. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, selain dari hasil sawah yang tidak seberapa, aku dan ibuku bekerja dengan mengharapkan upah dari seseorang tetangga yang mempunyai usaha. Kerja itu sangat melelahkan. Pendapatan yang kami dapatkan tidak sesuai dengan tenaga serta waktu. Walaupun begitu aku berusaha untuk menyukai pekerjaan itu dan memulainya dengan membaca “bismillah”.

Harapanku, semoga suatu saat aku bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keadaan diriku saat ini, serta kemampuan yang kumiliki. Karena kadang hati ini terasa sakit, mendengar omongan orang-orang yang bilang, “Ngapain sih sekolah tinggi-tinggi kerjanya cuma jadi kuli, mendingan nggak usah sekolah saja.”

“Ya Allah, tegarkan dan berikanlah kesabaran kepada hamba-Mu ini. Karena kuyakin segala sesuatu itu pasti ada akhirnya. Kecuali kehidupan nanti yang sangat besar, yang dengannya Allah menguji hamba-Nya. Dengan cobaan, semoga kami diberi kesabaran serta dengan lapang dada menerima semuanya. Mudah-mudahan cobaan ini meningkatkan iman dan menghapus dosa-dosa kami”. Amin.

Pendapatan kami sebulan sangat minim, kurang dari Rp. 10.000,-. Meski begitu, ibu selalu berusaha menyisihkan barang sedikit untuk infaq atau sedekah. Alhamdulillah, dengan penghasilan yang sangat minim itu, bisa mencukupi kebutuhan kami. Hanya saja, untuk biaya sekolah adikku (SMP) sepertinya orang tuaku tidak sanggup lagi menanggungnya.

Semoga kesabaran, keistiqamahan dan ketaatan tetap ada padaku, walaupun Allah menguji dengan berbagai cobaan seberat apa pun, hanya kepada-Nyalah tempat kembali.

Sumber : Majalah Keluarga Islami

0 komentar:

Posting Komentar

About This Blog

Lorem Ipsum

  © Blogger templates Shiny by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP